Selasa, 28 September 2010

Love In The Ice

Ufuk timur, sang surya memancarkan sinar yang begitu hangat. Kicauan burung bersahut – sahutan memecah pagi. Seberkas titik air menetes didedaunan yang tertata rapi diatas bukit. Detak jantungpun seakan bernyanyi mengikuti irama alam. Seakan merindukan tempat yang begitu damai.

@@@@@
“ Nic, lu tunggu aja di meja makan, bentar lagi makanannya selesai”. Seru Tedy yang selalu setia menemani hari – hari Nica.
Nica adalah pasien rumah sakit Harapan Budi, tempat dimana keluarga Tedy bekerja. Selama dalam masa perawatan Tedy di beri tanggung jawab untuk menjaga Nica. Nica seorang pasien yang mempunyai penyakit kelainan jantung. Setelah oprasi selesai Nica diharuskan untuk terapi. Dia seorang gadis cantik dari Jakarta.
“ Iya..”. Ucap Nica perlahan dari ruang tengah.
Di dalam hati Nica yang terdalam, mulai tumbuh perasaan yang tidak mampu ia sampaikan, walau lewat kata – kata. Setiap kali menatap Tedy, jantungnya berdetak tidak seperti biasanya. Hanya itu yang mampu ia ungkapkan.
“Huh….. Udaranya segar banget”. Ucap Tedy membuka jendela dan menatap Nica sekilas. Nica terdiam sesaat, suatu yang beda terlihat dari diri Tedy. Sesuatu yang membuatnya tidak bisa mengedipkan matanya.
“ Hei, lu kenapa?”. Tedy mengerutkan keningnya.
“ Oh tidak, tidak, tidak apa – apa kok”. Ucap Nica dengan gugup.
“ Yuk sarapan, setelah itu kita jalan”.
“ Iya”. Ucap Nica semangat. Ia tidak akan menyia – nyiakan kesempatan buat jalan bareng dengan Tedy yang super tampan ini.

******
“ Wah……. seger banget”. Ungkap Nica gembira.
“ Hem……”. Tedy membentangkan tangannya dan menghirup udara pagi puncak, yang sangat menyegarkan.
Sekali lagi Nica terdiam. Dia seakan tersihir oleh senyum Tedy.
“ Tampan banget. Terasa begitu dekat. Kenapa jantung gue berdebar gini ya!. Kenapa saat menatapnya selau merasakan debaran yang berbeda. Apa gue mulai mengaguminya, tapi atas dasar apa gue mengaguminya. Kenapa?, apa yang terjadi. Gue selalu ingin berada didekatnya”.
Tedy membaca sikap aneh Nica yang tidak biasannya.
“Nic..Nica.”. Tegur Tedy sembari tersenyum, Membuyarkan lamunan Nica.
“Ya”. Ucap Nica agak salah tingkah.
“Pagi ini lu aneh Nic. Dari tadi ngelamun aja dan sekarang lu diem. Lu sakit yah!. Kalau sakit kita pulang aja.
“ Gak kok, gue sehat banget, malah”. Nica berusaha menunjukkan kesehatannya yang semakin membaik.
Tedy memang selalu baik terhadap Nica. Tapi kadang kala sikap baik Tedi hanya tertuju pada jatung Nica.
“Apa gue selemah itu. Apa tidak ada hal lain yang mesti di katakan. Paling gak tentang perasaan yang ingin disampaikan”. Gerutu hati kecil Nica.
Di sini Nica mendapatkan sahabat yang baik yaitu Risa. Hanya dengan Risa teman masa kecil adik Tedy.Ia bisa bercerita, mengungkapkan semua perasaannya.
“Sa gue bingung. Gue terlanjur menyukai Tedy. Tapi gue kurang suka, dengan sikapnya yang selalu menganggap gue cewek super lemah karna kelainan jantung gue. yang ia pikirkan cuma kesehatan jantung gue”. Mendengar ucapan Nica tatapan Risa menjadi berbeda.
“ Nic ini mungkin yang terbaik untuk lu”. Ucap Risa lemah, membuat guratan di kening Nica menjadi dalam. “ Lebih baik lu lupakan Tedy. Apalagi lu sekarang sudah tunangan”. Risa melihat cincin perak melingkar di jari manis Nica.
Nica terdiam sesaat. Nica tidak tau harus berkata apa. Apa Ia harus marah. Tapi Risa teman yang selalu ada untuknya. “Kenapa….?”. Semua jadi hening. Perlahan Risa beranjak dari tempat tidurnya dan mengarah kemeja belajarnya. Diambilnya satu foto yang tergeletak di meja belajarnya di tatapnya dalam foto tersebut.
“ Itu karna Tedy, tidak pernah memikirkan hati lo. Yang Ia pikirkan cuma jantung. Jantung adiknya yang ada di tubuh lo”. Ucap Risa tegas.
Nica tidak bisa berkata apapun. Air mata menjadi saksi hatinya yang tercabik – cabik. Seribu serigala yang mampu mencabik tubuh Nya pun tidak sebanding dengan luka yang telah bernanah di hati keci Nica. Otak dan hatinya sekarang berperang melawan emosi yang meledak – ledak dalam jiwanya.
“ Selama ini, perasaan ini hanya?”, ungkap hati kecil Nica. Berusaha mencari jawaban tentang perasan yang selama ini ia alami. “Sa gue permisi pulang”. Nica berusaha menahan jeritan hatinya. Dan menarik tas yang berada dimeja belajar.

******
Sebuah coper sudah siap ditangan kanan Nica. Ia bergegas meninggalkan vila. Nica tidak akan mengubah keinginanya, untuk berlama – lama ditempat ini. Berlama – lama di tempat ini hanya akan membuatnya gila. Bertarung dengan perasaan yang bukan perasaanya.
“Nic lu mau kemana?”. Junai mencoba menghentikan langkah Nica.
“ Tedy apa gue boleh tanya sesuatau”. Ucap Nica perlahan. Diikut anggukan Tedy. “Apa lu sayang gue”. Tatapan Nica membuat Tedy bertanya – tanya.
“ Apa yang salah dengannya”. Desah hati Tedy mencoba mencari jawaban. “ Kenapa lu ngomong gitu Nic?. Dari dulu gue selalu bilang, gue sangat sayang lu melebihi apapun”.
“ Lu yakin Ted”. Mata Nica seakan dipenuhi dengan lautan air.
“ Nica, lu kenapa?. Sekarang ceritakan yang terjadi, lu ada masalah?”. Tedy mulai mengkhawatirkan Nica yang tidak biasanya seperti ini.
“ Apa lu bisa, mencintai gue tanpa jantung ini?”. Air mata Nica mengalir layaknya sungai. Tedy terdiam dia hanya bisa menunduk.
Saat itu pertama kalinya Nica melihat Tedy tanpa Ekspresi apapun.
“ Tedy jawab gue!. Sekarang gue tanya lagi, tolong jawab dengan tegas. Apa lu bisa mencintai gue tanpa jantung ini, jantung adik lu?!”. Saat itu Nica tidak bisa berpikir. Air matanya keluar tanpa diperintah mengalir deras seperti sungai yang dipenuhi lumpur. Tedy shanya diam, dia seakan menutup pintu hatinya untuk Nica.
Nica pergi meninggalkan serpihan luka dihatinya. Selama ini yang Nica rasakan semuanya palsu. Padahal Nica telah mengorbankan semua termasuk seseorang yang dulu pernah menerangi hati nya. Sebelum Tedy datang dalam kehidupan Nica. Apa ini balasan untuknya. Tapi apa salah kalau Nica masih dan tetap menyukainya. Sekarang serpihan kaca itu telah membalut hati Nica. Dan siap menghabisi jantungnya secara perlahan.

Ditempat yang berbeda Nica malah mengecewakan hati seseorang yang sangat menyayanginya. Dia Kilan tunangan Nica. Nica ingin dia bahagia. Itu harapannya. Mungkin akan ada cerita lain tentangnya.

@@@@@
Gue Karin. Gue memang cewek yang super ceroboh, tapi sama sekali gue tidak pernah memikirkan bahwa gue akan menyukai cowok, yang tidak pernah mau menghargai wanita seperti Kilan. Entah kenapa dengan sikapnya itu, semakin lama gue malah semakin menyukainya. Dia pemuda pertama yang membuat perasaan gue bertanya – tanya.
Mungkin kebahagian itu hanya mimipi bagi gue. gue ingin untuk kali ini jangan jadikan Kilan itu mimpi. Tapi perasaan gue hancur setelah gue menyadari satu hal tentanganya. Hari ini sahabat gue Antini berbeda dengan biasanya. Tiba – tiba Dia menatap gue tajam, dan menghentikan ucapan gue.
“ Karin, lu harus menjauhi Kilan,!”. Ucap Antini tegas.
“ Kenapa dia orang baik, ya walaupun agak cuek!”. Dahi gue ikut mengerut. Gue kaget dengan respon Antini. Padahal selama ini dia sangat mendukung gue untuk bersama Killan.
“Pokoknya jangan dekati dia lagi!”.
“Memangnya kenapa sih An?”. Gue berusaha membujuk Antini. Antini kembali melihat gue dengan tajam. Kali ini segudang pertanyaan telah siap memakan otak gue. “ Dia sudah tunangan!!!”. Ucapan Antini yang perlahan itu membuat nadi dan saraf gue seakan tertimbun oleh duri.
Hujan megalir dengan deras, sederas air mata gue. Gue sedikit terhibur, karna orang yang gue suka sekarang telah berada disamping gue. Tapi hati gue sekarang diliputi perasaan benci. Apalagi setelah gue melihat sebuah cincin telah melingkar dijari manisnya.
Kenapa gue baru menyadari hal itu sekarang. Kenapa gue baru menyadari saat hati gue telah diikat olehnya. Perlahan gue tatap cincin itu, terbesit niat jahat dihati gue. Gue berusaha mengambilnya. Dan gue akan membuang jauh – jauh cincin itu.
“Apa yang lu lakuin. Jangan pernah lu sentuh cincin ini, jangan sesekali lu menyentuhnya!. Cincin ini adalah hidup gue, tanpa ini gue tidak bisa hidup!”. Kilan membentak karin keras.
“Kenapa….kenapa hanya sebuah cincin itu lu melakukan itu?.. Kenapa?...”. Gue menjerit keras di tengah derasnya hujan. Gue berlari membawa sisa kepedihan dihati gue hujanpun turun begitu deras sederas air mata gue.
Beberapa hari tidak melihat Kilan. Terasa sepi, tapi hanya untuk melihatnya. gue sampai rela mengikutinya dari belakang kemanapun dia melangkah. Cinta itu memang aneh. Saat itu tanpa sengaja gue melihat Kilan bertabrakan dengan seseorang. Cincin yang dia genggam jatuh kedalam sungai. Gue tidak tau kekuatan apa ini. Dengan reflek gue malah terjun dalam sungai.
“Bodoh.. lu tau, lu gak bisa berenang, kenapa nekat terjun!”. Karin baru saja sadar dari pingsan, malah dilempari dengan bentakan yang membuat telinganya panas.
“Salah, salahin gue terus. Semua kesalahan ini gara- gara gue. Jika gue suka lu, gue sayang lu itu juga salah gue. Semua salah gue…nih…”. Karin menyerahkan cincin yang semenjak tadi berada digenggamannya.
“ lu pernah bilang cincin itu adalah hidup lu, tanpa itu lu tidak bisa hidup, Iyakan. Gue hanya tidak ingin melihat lu mati hanya karna kehilangan cincin itu!!. Apa itu salah?!!”. Karin menjerit keras, Agar separuh dari sakit hatinya hilang.
Saat itu gue hanya bisa lari dengan membawa serpihan dihati gue. Kilan hanya terdiam, gue tidak tau apa yang dipikirkannya. Setelah kejadian itu tertutup sudah cerita gue dengannya. Dia mungkin benar – benar mimpi didunia gue.

*******
Ini mungkin kenyataan dari semua cerita yang kita alami tentang cinta yang telah membeku. Tapi cerita itu mungkin akan mencair. Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Dari jauh terlihat seorang gadis cantik sedang duduk ditaman depan kampus.
“Kilan…”. Teriak Nica dari jauh. Kilan langsung menghampiri Nica. Telah lama ia menunggu kehadiran Nica.
“ Lu kemana aja”.
“Maafkan gue”. Ucap Nica sembari memeluk Kilan. Karin yang melihat kejadian itu langsung berlari kearah kelas.
“ Besok gue kuliah lagi”. Kilan seakan lupa akan kehadiran Nica.
“ Kilan, lu kurang senang ya!”. Tiba – tiba Nica berkata hal yang mengejutkan Kilan. Kilan seperti bukan Kilan. Dia seakan menutup hatinya buat Nica. Dengan sikapnya yang tidak seperti biasanya.
“ Tidak Nic, tidak, gue sangat senang sekali”. Kilan tersenyum hangat pada Nica tunangannya.

@@@@@
“ Tedy, jika lu menyukai Nica, kenapa lu tidak berusaha bersamanya. Kalo lu menyukainya, kenapa lu tidak berterus terang. Jangan menyakiti diri lu. Sekarang lu pikir, mungkin saja lu menyukainya karna didirinya ada jantung adik lu, tapi gunakan hati lu. Apa lu yakin bisa menyerahkannya pada orang lain, dia sudah tunangan Tedy. Gue rasa adik lu pun, pasti tidak suka dengan sikap lu yang seperti ini”. Bentak Risa yang tidak tega, melihat Tedy yang menderita karna perasaanya yang tidak pasti. Risa pergi meninggalkan Tedy yang terdiam.
“Gue hanya ingin kalian berdua jujur akan perasaan kalian. Karna itu gue melakukan semua itu. Gue menceritakan hal yang terjadi pada Nica itu tidak lain karna, gue ingin kalian berdua saling mencintai tanpa harus ada kebohongan. Maafkan gue jika gue telah menyakiti perasaan kalian”. Bisik hati kecil Risa. Air matapun jatuh dipipi gadis cantik ini.

@@@@@
Mobil yang dibawa Kilan melaju kencang. Perlahan Kilan menatap Nica yang sedang melamun.
“ Nic, lu kenapa?, lu akhir-akhir ini lebih sering melamun”. Kilan memulai pembicaraan karna semenjak tadi mereka hanya diam.
“ Tidak apa –apa kok, gue hanya masih tegang ngehadapin ini. Guekan udah lama gak ngampus, gue takut gue tidak bisa mengejar semua pelajaran yang tertinggal”.
“ Oh…” Kilan tersenyum menatap Nica.

*****
“Siang maaf, lu mahasiswa pindahan itu ya!, kenalin gue Karin”. Karin berusaha bersahabat, ternyata diterima baik oleh pemuda itu.
“ Gue Tedy”. Tedy tersenyum ramah.
“ Nama yang bagus. Sesuai dengan postur tubuh lu yang keren”. Karin tersenyum menatapnya. Tedy jadi salah tingkah.
“ Cewek ini bener – bener aneh”. Ungkap hatinya.
“ Yuk kita lihat – lihat kampus”.
“ Kampus ini lumayan gede sih. Kalo satu dua kali berada disini mungkin bisa puyeng nyari jalan keluarnya. Lama – lama juga bisa hapal kok. Jadi untuk beberapa hari ini yang nemenin lu, itu gue. Kayaknya lu anak kesayangan banget. Padahal biasanya gak ada yang perlu nemenin anak baru buat masuk kampus, dia bisa nyari sendiri. Emang lu siapa sih.
“ Gue bukan siapa – siapa?”.
“ Yang bener?, emang nama asli lu siapa?”.
“ Tedy Nugraha”.
“ What, jangan – jangan lu anak pemelik rumah sakit harapan budi itu ya!”.
“ Hem…….”. Tedy hanya tersenyum. Sekarang matanya tertuju pada taman yang ada di sampingnya.
“ Tedy lu lihat apa?”. Karin mengarahkan pandanganya, kearah kedua orang yang tak asing baginya itu.
“ Mereka sersi ya!”. Ucap Karin datar, Karin langsung melangkah dengan cepat.
“ Karin..” . Panggil Tedy agak keras. Tiba –tiba Nica berdiri dan berusaha mencari arah suara yang didengarnya itu.
“Nic lu kenapa?”. Kilan membaca perubahan drastis Nica.
Detak jantung Nica semakin cepat. Pikirannyapun melayang jauh, terasa sesak. Seperti ada seratus tali yang siap mengikat jantungnya.
“ Gue ke toilet dulu”. Ucapnya dan langsung pergi, dengan separuh tenaga dia berusaha bangkit. dibasuhnya mukanya dengan air yang mengalir dari keran, terasa sejuk. Tapi tidak cukup menghilangkan debaran jantung itu, di basuhnya beberapa kali, ternyata semakin sesak. Keringat dinginpun bercucuran.
“ Perasaan apa ini?, jangan bodoh ini bukan jantung lu!. Mungkin saja degupan jantung ini degupan jantung orang lain”. Nica melihat dirinya didepan cermin dan berusaha menguasai dirinya, dengan wajah yang memucat.
“Nic ”. Tiba - tiba Tedy sudah berada didepan WC, dan memegang tangan kanannya.
“Gue mo bicara dengan lu”. Nica berusaha melepaskan pegangan tangan Tedy.
“Lepas…lepaskan tangan gue”. Nica berusaha melepaskan pegangan tangan Tedy yang begitu erat.
“ Lepaskan tangan lo”. Dari belakang Kilan memukul Tedy. Nica berlari kearah Kilan, karna melihat kejadian itu Karin segera berlari.
“ Lu… Apa tidak bisa, bicara dengan baik. Kenapa harus selalu main tangan!”. Karin menatap Kilan dengan tajam. Dan mendekat ke Kilan. “ Dengar sekali lagi lu lakuin itu, lu akan berhadapan dengan gue. Tedy kita pergi dari tempat ini, disini memuakkan”. Karin menarik tangan Tedy, dan melangkah pergi.
Nampak kekesalan diwajah Kilan. Di tendangnya tong sampah yang ada didepan Wc. Nica hanya bisa menatap Kilan dalam.
Karin berjalan sangat cepat. Menjauh dari Kilan dan Nica.
“ Hei.. kenapa lu membela gue. Tadi lu sangat keren. Apa lu kenal mereka?”. Karin tersenyum mendengar pujian Tedy, dan mulai berbicara.
“lu suka cewek itu kan?. Gue rasa malam ini gue bisa membantu lu buat ngomong sama cewek itu”.
“ Kenapa lu melakukan ini”. Karin tersenyum mendengar ucapan Tedy.
“ Gue hanya ingin perasaan lu tersampaikan, itu saja”.

******
Suasana malam begitu indah, langit – langitpun seakan bersahabat, bintang dan bulan seakan bernari – nari diangkasa. Semuanya berpasang – pasangan seperti putri dan pengeran, dengan gaun – gaun yang indah.
“ Lu anggun sekali Rin”. Tedy tersenyum memuji Karin.
“ Trimakasih..”.. Ucap Karin sembari menunduk, seakan menirukan gerakan yang di lakukan putri – putri istana.
“ Gue tarik kembali kata – kata gue”.
“Kok gitu..”. Karin agak cemberut.
“ Cara hormat lu tu salah, itu terlalu kebawah”.
“Ah biarin gue kan masih dalam pembelajaran”. Ucapnya singkat. Mata Karin mulai beralih ke dua pasangan yang ada di depannya. “Mereka serasi ya, yang ceweknya cantik, yang cowoknya ganteng”. Karin melihat kearah Kilan dan Putri.
“ Gue heran sama lu, lu menyukainya tapi malah memuji keserasian mereka?”.
“ Kenapa lu bilang begitu, siapa juga yang menyukai Kilan”.
“ Ah jangan bohong. Tuh apa, gue gak pernah bilang yang lu suka itu Kilan. Lagian gak mungkinkan seorang Karin mau menolong seseorang tanpa imbalan”. He..he.. Karin tertawa gak enak.
“Sini, gue punya usul, lu hanya punya waktu sepuluh detik untuk membawa Nica kabur?”.
“ Ha apa yang ingin lu lakuin”.
“ Gue mau matiin lampu ini bentar. Gimana setuju gak”.
“ Iya..”.
“ Zip”. Tedy dan Karin mulai beraksi, tiba – tiba lampu di ruang pesta itu mati.
“ Kenapa nih”. Ucap Nica kaget karna lampu disekeliling mereka mati, tiba – tiba tangannya seakan ada yang menarik.
“ Tedy…”. Nica baru menyadari orang yang menarik tangannya adalah Tedy.
“ Apa yang lu lakuin?”.
“ Gue ingin bicara dengan lu”.
“ Tidak ada lagi yang mesti dibicarakan”.
“ Apa lu begitu bahagianya bertemu laki – laki itu hingga melupakan gue?”. Ucapa Tedy membuat hati Nica sakit. Paaaakkkk Sebuah tamparan melesat dipipi kanan Tedy.
“ Apa lu bilang?. Kenapa lu bisa ngomong begitu. Tau apa lu tentang gue!”. Mereka berdua diam beberapa saat.

******
Karin senyum –senyum sendiri karna hal yang Ia rencanakan sudah berhasil. Kilan membaca situasi kali ini.
“ Hei apa yang lu lakuin”. Sembari menarik tangan Karin.
“ Lepaskan sakit tau, gue tidak melakukan hal yang sia – sia. Gue melakukan hal yang benar”. Karin langsung membalikkan tubuhnya dan ingin melangakah. Dia lupa saat ini dia memakai gaun. Gaunnya terinjak dan dia hampir jatuh. Untung dengan sigap tangan Kilan menggapainya. Sekarang Karin bisa menatap mata Kilan dengan debaran yang berbeda.
“ Hei… Halllo”. Ucap Karin memecahkan hayalan Kilan. “Lepaskan tangan lu”. Sekali lagi Kilan menarik tangannya. “ Cepat katakan dimana Nica, dan teman lu itu?”.
“Gue gak tau” Ucap Karin melepaskan tangannya dan lari, kemudian hilang ditengah keramayan.

*******
Suasana taman kampus memang agak sepi, hanya lampu – lampu dan bintang – bintang malam menghiasi tempat itu.
“ Maafkan gue”. Tedy mulai bicara. “ Maafkan gue karna gue tidak peka dengan perasaan itu, perasaan gue seakan teertutup karna kehilangan orang yang gue sayang. Semua orang yang gue sayang meninggalkan gue. Mungkin gue di takdirkan untuk kehilangn semuanya”. Tedy menunduk. Nica menatap Tedy dengan hati yang bertanya – tanya.
“ Tapi gue ingin sekali untuk terakhir kali ini, takdir gue memihak pada gue. Gue tidak ingin kehilangan orang yang gue sayang sekali lagi. Gue tidak ingin kehilangan lu, Nic”. Tedy menatap Nica tajam.
“Tidak Tedy, Tidak, lu tidak mencintai gue, yang lu cintai hanya adik lu. Karna ditubuh gue ini ada jantung adik lu. Iyakan Ted?!”. Air mata jatuh dipipi Nica.
“Tidak … itu salah gue menyukai lu, Nic. Bukan karna jantung itu tapi karna hati lu. Gue baru menyadari hal itu saat lu pergi meninggalkan gue. Gue tidak bisa sendiri, tolong maafin gue. Gue tidak ingin kehilangan lagi Nic”. Nica menatap Tedy dalam, airmatanya terus mengalir.
“Gue mencintai lu Nic, karna hatilu. Hanya hati lu!”. Tedy menatap Nica. Sekarang matanya telah berkaca – kaca.
“Jangan berkata seperti itu Ted. Perkataan lu itu membuat hati gue sakit. Itu karna gue masih menyukai lu”. Desah Nica sembari berlari dan memeluk Tedy yang terduduk kaku. “Gue tidak ingin kehilangan lu”…Bisik Tedy ke Nica.
Karin melihat kejadian ini, dia berdiri tegak. Diam tanpa kata. Di hapusnya air matanya. “Apa gue harus senang mendengar hal ini?” Desahnya dan membalikkan tubuhnya. Tapi Didepanya telah berdiri Kilan. Kilan berjalan kearah Nica.
“ Lu mau kemana”. Karin berusaha mencegah.
“ Kilan ”..desah Nica dan menunduk.
“ Gue pikir Tedy, memang pria yang tepat buat lu”. Ucapan Kilan mengejutkan Nica.
“ Kilan….”.Nica memeluk Kilan, terbesit kebahagiaan dihatinya.
“ Jangan lakukan ini didepan mereka. Gue takut ada yang cemburu”. Kilan melirik Karin. Karin tertunduk mukaya memerah. Nica melihat cincin dijari manisnya.
“ Cincin ini telah menemukan pemilik yang sesungguhnya”. Nica memberikan cincin itu ke Karin dan memakaikannya.
“ Sangat cocok untuk lu, simpan baik – baik cincin ini”.
“ e… iya…Wah cincinya bagus banget, pantas aja Kilan rela mati gara –gara cincin ini?”. Sembari melihat cincin dijari manisnya.
“ Apa yang lu bilang”. Muka Kilan agak memerah karna malu. “He..he..” Semua tertawa senang. Rona kebahagiaan sekarang menerangi wajah mereka.
“ Nica apa lu juga menginginkan sebuah cincin”. Ucap Tedy menggoda Nica.
“Gak gue sudah cukup senang karna memiliki hati lu”. Nica tersenyum kearah Tedy. Cinta yang telah membeku itu sekarang benar – benar menjadi cair. Itu bukan mimpi bagi orang yang menghargai kehadiran cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar